PENDIDIKAN, ANTARA IDEALITA DAN REALITA
“Ibarat
sebuah pedang / keris yang sangat tajam dan ampuh, dimana terkadang disatu sisi
ia bisa digunakan untuk keperluan yang baik namun disisi lain ia bisa menjadi
sebuah alat yang bisa mencelakakan siapa saja”. Maka hakekat pendidikan pun tak
jauh bedanya dengan hal tersebut, tergantung siapa yang menggunakan hal
tersebut dan bagaimana ia menggunakannya. Oleh karenanya pendidikan seperti
yang diungkapkan sosiolog Emile Durkhiem, “bahwa pendidikan bermakna ganda atau
sesuatu yang tidak bebas nilai, artinya disatu sisi ia bisa menjadi sebuah alat
pembebasan dan disisi lain ia bisa menjadi sebuah pembodohan, ketika pendidikan
dijadikan sebuah alat hegemoni dari yang namanya kekuasaan.
Seperti halnya yang direfleksikan
Paulo Fraire ataupun jika kita mengacu teori Hegemoni-nya Antonio Gramsci, maka
sistem pendidikan adalah produk dari hubungan-hubungan produksi, maka
pendidikan tidak bisa dikatakan netral. Disana penuh dengan kepentingan
(kepentingan politik atau asumsi-asumsi ideologis).
Dari
pengertian diatas, maka Fraire menyoroti pendidikan dalam tiga hal: Pertama,
hubungan antara pengetahuan dengan kekuasaan. Kedua, hubungan antara kurikulum
dan realita sosial. Ketiga, tugas-tugas intelektual. Statemen Fraire ini dapat
digunakan untuk menjelaskan pemikiran Jurgen Habermas, yang memandang dari
pengertian kekuasaan, realitas sosial, dan tugas intelektual. Dia membagi teori
menjadi dua, pertama, Tradisional dan kedua, Kritis. Baginya Teori krirtis
bersandar pada sejarah penderitaan manusia dan berfungsi membangun partisipasi.
Mau kemana pendidikan juga
kemudian bersandar kepada mau dibawa kemana lingkungan ini (negara, masyarakat,
mode produksi). Dalam pengertian ini maka sesungguhnya pendidikan merupakan turunan
dari national and character building, dan mau digerakan kemana dan seperti apa
negara dan masyarakat.
Mengutip
pernyataan Prof Johar ketika lingkungan tidak dijadikan pendekatan dalam
pendidikan, maka pendidikan menjadi tidak kontekstual. Pendidikan menjadi tidak
membasis, tidak
mengakar
dan berakibat pendidikan tetap akan menghasilkan manusia tergantung.
mengakar
dan berakibat pendidikan tetap akan menghasilkan manusia tergantung.
INDONESIA DAN
HEGEMONI PAX AMERICANA
Dalam konteks keindonesian, maka
kompentensi pendidikan akan diukur bersandar pada kemampuan peserta didik mampu
mengatasi realita sosial yang dihadapinya, maka peserta didik juga harus
mampu membongkar manipulasi yang
tersembunyi dari pernyataan obyektif.
Neo Liberalisme yang begitu
gencar akhir-akhir ini seakan mengajak seluruh penghuni bumi untuk bersepakat
dengan “the End of History”, bahwa sejarah peradaban manusia telah selesai
dengan kapitalisme liberal. Dunia dipaksa bersepakat bahwa masa depan dunia
yang sejahtera akan terjadi dengan Neo-Liberalisme; Globalisasi; Pasar Bebas.
Neo liberalisme jejaknya dapat
kita baca alurnya semenjak menjelang akhir Perang Dunia II, yaitu usaha
Pemerintah Amerika dalam rangka membikin ruang selebar-lebarnya bagi operasi
TNC dan MNC Amerika. Banyak usaha yang dilakukannya, mulai dari mengorganisir
pertemuan-pertemuan internasional sampai lahirnya WTO dan GATT, melakukan
progam hegemoni lewat Marshal Plan di Eropa Barat dan mendukung dekolonialisasi
dan progan developmentalis di negara-negara dunia ketiga. Subversib sebagai
politik luar negeri akan dilakukan kepada negara yang mencoba menantang Uncle
Sam.
Di Indonesia, proyek besar ini
dilakukan dengan standar ganda semasa perang revolusi kemerdekaan Indonesia,
disatu sisi Amerika mendukung Belanda tetapi mulai 1948 mendukung kemerdekaan
RI dengan memfasilitasi perundingan-perundingan dan melatih pasukan RI. Namun
ketika Soekarno, dipandangnya menegakan politik netralis bahkan berjalan
kekiri, Amerikapun mendukung gerakan separatis hingga akhirnya mendukung
Angkatan Darat untuk mengambilalih kekuasaan hingga akhirnya berdirilah rezim
militer Orde Baru yang lantas melaksanakan developmentalis,
Pemerintahan-pemerintahan pengganti Soeharto ternyata tetap dalam dominasi dan
hegemoni kapitalisme internasional/neo-imperialisme.
Pendidikan berbasis kompentensi
kemudian akan terukur sejauh mana pendidikan berkompeten menyikapi realita
negara yang semi kolonial dan pembangunan keterbelakangan yang lahir akibat
kolonialisme dan neo imperialime.
SEJARAH
BELUM BERAKHIR BAGI PEMBEBASAN NASIONAL DAN PEMBEBASAN RAKYAT
Mencerdaskan
kehidupan bangsa adalah seperti yang diamanatkan konstitusi, berarti pendidikan
ditujukan bukan hanya dalam pengertian sekolah, tetapi juga masyarakat dan
negara. Lemahnya pendidikan masyarakat sesungguhnya mengakibat pendidikan dalam
pengertian instusi (sekolah ataupun kampus) menjadi pincang. Selama ini
masyarakat dilibatkan dalam pendidikan hanya dalam pengertian pembiayaan.
Kompentensi
pendidikan akhirnya adalah sejauhmana hubungan pendidikan dengan lingkunganya.
Kemudian ketika lingkungan dan kondisi ter-refleksi-kan sejauh mana pendidikan
melahirkan cara berpikir yang akan membentuk sistem filsafat. Dalam pengertian
yang lebih luas maka hal ini akan menyentuh pada upaya mencerdaskan kehidupan
bangsa dan national and character building. Maksud dari Tan Malaka menulis
Madilog adalah untuk membangun cara berpikir agar rakyat terbebas dari
belenggunya dan akhirnya sanggup menjadi tenaga penggerak pembangunan.
Mainstream seperti inilah sesungguhnya melatarbelakangi KH Ahmad Dahlan
mendirikan madrasah, KH Dewantara mendirikan Taman Siswa dan Tan Malaka
mendirikan sekolah rakyat.
Pendidikan
menjadi memiliki kompentensi, ketika pendidikan itu tidak hanya mampu
beradaptasi dengan lingkungan, tetapi melahirkan kalau di dalam pengetahuan
terdapat teori, maka teori tersebut bukannya teori yang memanfaatkan keadaan,
tetapi teori yang mengubah keadaan. Maka jika pendidikan diupayakan hendak
membebaskan bangsa dan rakyat Indonesia, yang bersumber pada belenggu
kapitalisme-imperialisme, maka tugas teori kita adalah membangun dari teori
nilai lebih menuju nilai lebih teori.
Wassalam
SALAM FPPI


Tidak ada komentar:
Posting Komentar